Kenaikan Berat Badan Bisa Dikontrol dengan Pola Makan yang Baik
DATA Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2010 menunjukkan, sekitar 43 juta anak balita mengalami kelebihan berat badan. Hampir 35 juta anak tersebut tinggal di negara berkembang. Sementara dikutip dari situs Kompas.com, hingga 2012, jumlah anak di Indonesia yang mengalami obesitas mencapai 12 persen.Fakta tersebut sempat membuat khawatir Anisa Masitha. Apalagi, putra semata wayangnya, Ibrahim Manunggal, memiliki riwayat gemuk. Ketika lahir, berat badan Ibra, sapaan anaknya, mencapai 3,8 kilogram. "Sekarang usianya dua tahun, beratnya 14 kilo," ujar dia.
Anisa mengatakan, dalam sehari, Ibra bisa makan lebih dari tiga kali. Belum lagi, camilan dan susu formula yang dikonsumsi. "Saya tidak tega kalau dia menangis lalu minta dibuatkan susu atau ngemil, padahal dia sudah cukup gemuk," beber dia.
Ibu satu anak itu sadar, kondisi gemuk bisa membahayakan kesehatan. Apalagi, gerak Ibra saat ini juga kurang aktif. Saat ini, Anisa berusaha mengatur pola makan si kecil agar berat badannya normal dan stabil. "Sedikit-sedikit akan saya batasi camilannya. Lalu, saya ajak anak bermain di lapangan sebelah rumah," terang Anisa.
Menurut Kepala Bagian Gizi RS Telogorejo Semarang Anastasia Aprilia, obesitas merupakan keadaan seseorang memiliki indeks massa tubuh melebihi ambang batas. Ada tiga penyebab anak mengalami obesitas, yaitu, makanan, aktivitas, dan genetik. Namun, pengaruh genetik cenderung kecil.
"Kalau ditunjang pola makan yang baik, kenaikan berat badan bisa dikontrol," jelas wanita yang akrab disapa April itu.
Faktor makanan lebih memengaruhi kenaikan berat badan. Makanan jenis junk food atau fast food merupakan contoh makanan yang dapat meningkatkan risiko obesitas. Orangtua harus pandai memilih restoran junk food yang menyediakan sayuran dan buah. Dia menyarankan untuk memilih tempat yang menyediakan salad dan jus buah sebagai penyeimbang.
"Makanan instan bisa diberikan kalau memang ibu tidak sempat membuat makanan sendiri. Dan harus dipilih yang berkualitas. Tetapi, kalau bisa, lebih baik makanan organik," terang wanita berkacamata itu.
Fenomena pemberian makanan instan atau susu formula bagi anak juga bisa menyebabkan obesitas. Susu formula mengandung gula dan karbohidrat lebih tinggi. Kelebihan karbohidrat ini lah yang dapat membuat anak menjadi gemuk. Aktivitas juga ikut berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Asupan makanan yang masuk harus seimbang dengan energi yang ke luar. Tanpa aktivitas, kalori yang berlebihan akan ditimbun tubuh. "Apalagi, anak zaman sekarang lebih suka diam di rumah dan main gadget," imbuh April.
Dampak obesitas pada kesehatan anak sudah lama diketahui. Penimbunan lemak bisa mempercepat pembentukan plak pada organ dan terkena penyakit degeneratif. "Penyakit jantung merupakan penyakit yang satu penyebabnya akibat obesitas," ujar April. (abay)
terimakasih informasinya...
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus